Jaya Jayaning Nuswantara 6: Harmoni Doa, Tradisi, dan Asa di Bumi Magetan
MAGETAN, exspresnews.com – Pemerintah Kabupaten Magetan kembali menghelat rangkaian tradisi budaya bertajuk Jaya Jayaning Nuswantara 6. Acara ini merupakan perwujudan pelestarian warisan leluhur sekaligus penguatan nilai spiritual masyarakat, yang dipusatkan di Pendopo Surya Graha dan sejumlah lokasi strategis lainnya. Agenda utamanya meliputi kirab pusaka dan ritual penyucian diri.
Rangkaian acara diawali pada Senin (22/6/2026) dengan prosesi pengambilan air dari berbagai mata air di wilayah Kecamatan Panekan. Puncaknya, pada Kamis (25/6/2026), digelar Lampah Hastungkoro, kirab pusaka, serta doa bersama yang merentang dari Pendopo Surya Graha hingga Alun-alun Magetan.
Selain prosesi ritual, kegiatan ini dimeriahkan pula dengan pameran budaya yang memamerkan koleksi tosan aji (pusaka berbahan logam seperti keris) dan batu mustika, yang sarat akan nilai filosofi dan sejarah. Pameran ini menjadi daya tarik tersendiri, mengundang masyarakat dan pengunjung untuk menyelami lebih dalam warisan budaya leluhur.
Tak ketinggalan, tradisi andum berkah Bolu Rahayu menjadi bagian integral dari perhelatan ini. Kegiatan ini melambangkan semangat berbagi rezeki dan keberkahan kepada masyarakat, sebuah tradisi turun-temurun di Magetan. Antusiasme warga terlihat jelas dalam mengikuti prosesi ini, sebagai wujud syukur dan harapan akan kesejahteraan bersama.
Bupati Nanik Sumantri menegaskan bahwa kirab pusaka bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan memiliki makna filosofis yang mendalam bagi kehidupan masyarakat Magetan.
“Kirab dan jamasan pusaka Magetan Pandhawa, yang dikenal sebagai Kyai Pandhawa Nagaragung, mengandung makna penyucian lahir dan batin, jiwa dan raga seluruh warga Kabupaten Magetan. Harapannya, kita semua senantiasa dianugerahi keselamatan, kemuliaan, serta dijauhkan dari segala marabahaya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Nanik menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi simbol persatuan masyarakat dalam menjalankan laku spiritual dan doa bersama demi kemakmuran daerah.
“Menyatunya langkah dan doa ini mengisyaratkan bahwa seluruh warga Kabupaten Magetan bersatu padu dalam menjalankan laku utama. Semoga Magetan semakin berjaya, dikenal luas, dan unggul selamanya,” imbuhnya.
Ia juga menaruh harapan agar tradisi budaya semacam ini terus dilestarikan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus menjaga identitas daerah.
Rangkaian Jaya Jayaning Nuswantara tidak hanya menyajikan tontonan budaya yang memukau, tetapi juga menjadi tuntunan spiritual yang mengajak masyarakat untuk merefleksikan diri, menjaga harmoni, serta mempererat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. (ik)
